Selasa, 23 September 2008

Introspeksi (Dimuat di Tabloid Maung Bandung Edisi 83/ll/lll-September 2008 dengan judul Evaluasi)

Pastinya kecewa jika melihat tim kebanggaan kita kalah. Apalagi tim itu dihuni pemain-pemain berkualitas. Ingin rasanya menumpahkan segala kekesalan. Tapi apakah harus bertindak anarkis sampai membuat tim tersebut merugi?

Inilah yang dialami Persib Bandung. Klub kebanggaan kota kembang ini mempunyai beribu-ribu suporter fanatik. Dari anak-anak sampai kakek-nenekpun tak jarang menyaksikan para pahlawannya dari tribun stadion. Tapi sayangnya saat Persib terpuruk, bobotoh bertindak di luar batas yang justru membuat para pemain akan tertekan.

Alhasil saat ini bobotoh terhukum larangan hadir di stadion menggunakan atribut selama satu tahun. Walaupun sebenarnya bobotoh dapat masuk tanpa menggunakan atribut. Tidak bisa dipungkiri, kehadiran bobotoh adalah energi ekstra bagi Persib. Apakah setelah insiden itu, pemain bisa bermain lepas saat disaksikan bobotoh di stadion?

Ekspektasi berlebihan membuat terbebani. Bukannya menang, malah terpuruk oleh diri sendiri. Dalam sebuah permainan atau olahraga untuk yang satu ini, pasti ada yang menang dan kalah atau mungkin seri. Janganlah memandang kekalahan sebagai aib. Tapi pandanglah sebagai bahan evaluasi, bahan pembelajaran untuk pertandingan selanjutnya. Seharusnya kita bisa menerimanya dengan lapang dada.

Kita (bobotoh) sebagai warga negara Indonesia yang ingin memajukan sepakbola nasional, mestinya harus lebih santun, sabar, dan tertib. Dengan begitu, masyarakat lain akan menghormati. Acuh saja jika lawan mengintimidasi. Jika kita membalasnya, kerugian kembali akan didapat Persib. Apalagi bobotoh itu sangat dibutuhkan bangsa Indonesia. Ingat, mengalah bukan berarti kalah.

Syukurlah akhir-akhir ini, nampaknya bobotoh sudah sadar. Apa yang dilakukan sangatlah fatal akibatnya. Bobotoh mau berubah. Kini semua telah menyatakan dan akan menepati janji untuk takkan rusuh. Yang jelas saat ini semua menyongsong hari esok walaupun dengan hukuman yang diemban. Buatlah perubahan yang positif kawan. Karena semua itu demi menjaga martabat dan tentunya demi 'Pangeran Biru'.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

ayo jangan lelah menebarkan sikap positif, gak usah jauh-jauh. Komunitas Viking aja dulu.
Hidup Maung Bandung !
Hidup Domba Garut !

tonggak Pembaharuan Komunikasi Kampus mengatakan...

sejatinya sikap selalu memiliki landasan cinta apapun itu.... bahkan hingga anrchi sekalian.
cinta atas dasar realita dan pemikiran yang jernih, hingga cinta buta yang akhirnya mati konyol, nyol, nyol, nyool..
cinta harus gila, tetapi mencintai tidak harus menjadi manusia gila yang kehilangan akal sehat dan waktu untuk berpikir....

melihat saat ini, (semoga tidak seperti yang saya fikirkan) manusia memiliki memroi yang rendah untuk merekam sikap atau hal positip. hanya hangat tai aya, bau, ngebul, ... hangatnya bentar baunya luama.... semoga ini bukan persija effect, tetapi benar-benar untuk perubahan... dan satu satunya jalan adalah dengan mengatakan cinta, dan selalu berpikir tentang cinta.... tentunya cinta yang indah...

nice artikel, saya suka!
salam kenal, zatnika. (amzatnika.wordpress.com)

Segenap crew yang bertugas (padahal cuma satu orang), mengucapkan...


I made this widget at MyFlashFetish.com.

THIS BLOG AFFILIATED WITH: WWW.MULAIBELAJARGILA.BLOGSPOT.COM

WILUJENG SUMPING!

CARI POSTING? KLIK DI LABEL:
*Cintah PERSIB make manah: Artikel tentang PERSIB,
*Di Luar Dari Sepakbola: Cerita pengalaman sayah yang konyol gak jelas,
*Sepakbola Indonesia: Artikel sepakbola nasional,
*Sepakbola Internasional: Artikel sepakbola internasional.
*Artikel Media: Artikel yang sudah dimuat di Media Massa


JANGAN LUPA KASIH COMMENT!!!

Terhukum